Sabtu, 19 Mei 2012

Mujizat Ekaristi


HOSTI BERDARAH DI GEREJA KIDUL LOJI
Sebuah berita mengejutkan namun dapat meneguhkan iman bagi manusia zaman kini adalah mengenai “mukjizat” berupa hosti berdarah. Kejadiannya di Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius di Jl. Panembahan Senopati 22, Yogyakarta yang dikenal oleh umat katolik setempat dengan nama Gereja Kidul Loji.

Peristiwa ‘aneh’ ini terjadi saat berlangsung misa/ekaristi mingguan pada hari Minggu, tanggal 15 April 2012. Saat itu, yang memimpin perayaan ekaristi adalah Romo V. Suparman Pr, salah satu pastor di Gereja Kidul Loji. “Sampai Liturgi Ekaristi dan Komuni, semuanya berjalan lancar-lancar saja,” kata Romo Noegroho Agoeng Pr, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Semarang.

Hosti terjatuh dan hilang
Menurut Romo Agoeng mengutip cerita dan syering dari Romo Saryanto Pr –Romo Vicaris Episcopalis Wilayah DIY—kejadian ‘aneh’ yang meneguhkan iman terjadi saat berlangsung penerimaan komuni. Seorang prodiakon tengah menerimakan komuni pada salah seorang umat kategori muda/remaja. “Saat mau disantap, tiba-tiba hosti tersebut jatuh,” jelas Romo Noegroho Agoeng.

Dicari-cari juga tidak ketemu. “Anak itu kemudian diberi hosti lagi dan kemudian ‘sukses’ ditelan. Komuni berlanjut seperti biasa,” tambah Romo Agoeng.

Mencari hosti
Usai misa berakhir, prodiakon tersebut dengan perasaan gentar datang melaporkan peristiwa hilangnya hosti tersebut saat berlangsung komuni. Kemudian, prodiakon itu berinisiatif mencari hosti yang hilang dan eureuka!

Hosti yang jatuh ‘hilang” itu akhirnya ditemukan di tempat tak jauh dari lokasi pembagian komuni tadi. Hanya di situ ditemukan sebuah ‘gumpalan darah’ sebesar hosti.

“Gumpalan darah itu kemudian dilap dengan purificatorium (kain putih yang biasa dipakai romo untuk membersihkan piala) dan kemudian purificatorium itu dibersihkan dengan air suci,” tulis Romo Agoeng.

Prodiakon itu lalu berinisiatif mengajak anak remaja dan ibunya serta beberapa umat lainnya untuk berdoa, mohon ampun atas ‘kelalaian’ tersebut.

Purificatorium itu kemudian dimasukan ke dalam piscis(kotak kecil untuk menyimpan hosti) dan piscis itu diletakkan di kapel pastoran.

Pukul 24.00 bersama Romo Vikep Saryanto Pr, Romo V. Suparman Pr melihat kembali piscisberisi ‘hosti berdarah’ tersebut. “Yang bekas darah dibersihkan dan masih terasa basah; sementara bercak darahnya sudah mulai pudar. Namun di bagian yang sudah kering ada bekas darah warna merah kecoklatan. Baunya wangi,” tulis Romo Noegroho Agoeng.

Purificatorium itu kembali disimpan kembali di kapel pastoran.

Warna Berubah
Seperti biasanya, setiap pagi Romo Suparman datang menghadap “Hosti Berdarah” yang terletak di kapel pastoran. Kedatangan itu bertujuan untuk menyembah alias adorasi. Pada hari Selasa pagi, dua hari setelah peristiwa aneh itu (17 April), Romo Suparman datang bersama Romo Noto untuk menghatur sembah.

Betapa hati Romo Suparman terkejut dan diliputi keheranan melihat adanya fenomena perubahan warna. “Bercak-bercak darah yang kemarin berwarna merah kecoklatan sekarang sudah berubah menjadi terang.” Ungkap Romo Suparman kepada Romo Aloysius Budi Purnomo Pr setelah pulang dari menyembah “Hosti Berdarah”.  Aroma wangi masih bisa tercium.

Tanggapan
Peristiwa “hosti berdarah” sebenarnya tidaklah perlu membuat heboh kita semua. Sebagai pengikut Yesus semestinya hal ini kita anggap sebagai hal yang biasa dan wajar karena dalam iman kita, hosti yang sudah dikonsekrasi kita imani telah berubah menjadi tubuh dan darah Yesus sendiri. Sehingga ketika menerima komuni, kita menerima tubuh dan darah Yesus sendiri.

Kehebohan atau ketakjuban akan peristiwa-peristiwa yang tidak lazim seperti kisah hosti di Paroki Kidul Loji, Yogyakarta menunjukkan fakta bahwa selama ini sebenarnya kita “kurang percaya”, kemudian seolah-olah menjadi percaya setelah kejadian-kejadian tersebut terjadi. Padahal kalau direnungkan lagi dalam hati kita masing-masing, sejujurnya justru masih juga meragukannya. Malah, menurut cerita beberapa umat, sebelum peristiwa “aneh” itu terjadi, ada tindakan “pelecehan” terhadap sakramen Mahakudus, yang konon katanya dilakukan oleh pastornya sendiri. Kita tidak tahu apakah semua ini ada kaitannya. Namun cukup menarik menyimak nasehat Uskup Semarang, menyikapi peristiwa ini, agar umat meningkatkan penghormatan terhadap ekaristi dan sakramen Mahakudus.

Perihal hosti hilang, kita tidak mendapat gambaran persis tentang warna lantai gereja itu. Jika seandainya lantainya warna putih, tentulah “hilang” itu bisa dijelaskan, yaitu karena warna hosti menyatu dengan warna lantai. Saat itu sang pro-diakon tidak lagi konsen atau fokus mencari sehingga tidak dapat. Dia tidak fokus karena saat itu lagi membagikan hosti kudus. Hosti itu baru didapat setelah memang dia berfokus untuk mencari.

Saat ini peristiwa “Hosti Berdarah” sedang dalam penelitian. Umat disarankan untuk tidak terlalu cepat menaruh kepercayaan. Serahkan saja semuanya kepada ahlinya. Namun urusan iman dan percaya bukan terletak pada mereka melainkan pada diri umat masing-masing.

Beriman adalah percaya, percaya berarti tidak perlu lagi pembuktian atau tidak perlu bukti-bukti pendukung lain. Karena “percaya” itu mengandung arti bahwa kebenaran dirasakan dan dialami di dalam hati yang terdalam. Agar bisa percaya/ beriman, tidak perlu bantuan panca indera, hanya perlu hati, yang terbuka dan jujur menerima. Yesus sendiri pernah berkata, “Berbahagialah mereka yang percaya tapi tidak melihat!”

Peristiwa Pembanding “Mukjizat”
19 Juni 2011, umat katolik di Gereja Paroki St. Augustine di South St. Paul, Keuskupan Agung St. Paul – Minnesota, AS dibuat heboh oleh berita yang menyebutkan sebuah hosti telah jatuh saat komuni. Hosti itu juga berubah menjadi warna merah, ketika hendak dihancurkan atau dilarutkan dalam air –yang katanya—sesuai hukum ketentuan Gereja.

Untuk menepis simpang-siur interpretasi apakah hosti yang berubah menjadi merah itu sebuah mukjizat atau bukan, otoritas Gereja setempat dalam hal ini Paroki St. Augustine South St. Paul segera berbuat sesuatu yang perlu. Mereka lalu melakukan penyelidikan forensik  –apakah itu biologis dan kimiawi— guna mencari sebuah kepastian otentik.

Belakangan malah disimpulkan, dari hasil analisis penyelidikan forensik atas fenomena munculnya “darah” pada hosti itu, Gereja menyatakan bahwa itu tak lebih sebuah efek sebuah proses reaksi kimiawi dan biologis yang diakibatkan oleh jamur.

Peristiwa serupa juga terjadi di  Dallas, tahun 2006. Seorang bocah memuntahkan hosti yang telah ditelannya ke dalam sebuah gelas berisi air. Dalam hitungan hari, hosti tak beragi itu juga berubah menjadi merah layaknya darah dan muncul lapisan seperti jaringan daging. Hasil laboratorium forensik juga menyimpulkan, hosti “berdarah” itu tak lebih sebuah hasil dari sebuah proses reaksi kimia dari sebuah jamur jenis mycelia dan koloni bakteri.
Tahun 1991 di Venezuela juga pernah ketiban peristiwa yang sama. Hasilnya kali ini sangat “positif” karena bercak-bercak darah itu punya ciri golongan darah jenis AB yang katanya sama dengan jenis darah yang terdapat pada bercak-bercak Kain Kafan Turin.

Gambar/Foto 

by: adrian, diolah dari berbagai sumber

0 komentar:

Poskan Komentar